Penamparan yang dilakukan Warga Negara (WN) Inggris Auj-e Taqaddas berbuntut panjang. Setelah mengikuti proses hukum selama satu tahun lebih, dia harus menghadapi tuntutan 1 tahun bui karena ulahnya itu.

Sidang pembacaan tuntutan itu digelar Senin (7/1) kemarin. Sebelum sidang pembacaan tuntutan, Taqaddas telah dimintai keterangan sebagai terdakwa.

Di persidangan Taqaddas mengakui ulahnya menampar petugas imigrasi pada Sabtu (28/7/2018) sekitar pukul 20.00 Wita. Ketika tiba di konter Imigrasi, dia mengakui telah overstay dan membawa sejumlah uang untuk membayar denda. Namun dia mengaku tak mendapat respons yang baik dari petugas Imigrasi dan dibawa ke sebuah ruangan.

“Di konter Imigrasi itu, saya ditertawakan dan dibawa ke salah satu ruangan, tidak terlalu kecil ruangannya. Sampai di ruangan, salah seorang petugas konter Imigrasi bawa ke ruangan. Saya bertemu seorang pria yang berdiri di belakang meja, dan 7-8 orang petugas Imigrasi. Saya tidak tahu jelas status mereka, tapi mereka pada ambil kamera, dan memvideokan saya,” kata Taqaddas dalam sidang pemeriksaan terdakwa di PN Denpasar, Jl PB Sudirman, Denpasar, Bali, Senin (7/1/2019). PT BESTPROFIT FUTURES

Di ruangan tersebut, Taqaddas mengaku terus bertanya alasannya tak bisa meninggalkan Indonesia. Padahal dia mengklaim sudah membawa uang sebesar Rp 42 juta atau sekitar 2-3 ribu poundsterling yang dia siapkan untuk membayar denda. Taqaddas juga terus mengeluh mendapat informasi yang salah soal overstat-nya. Menurutnya, dia sudah mencoba menghubungi pihak imigrasi, kementerian luar negeri, dan konsulat Inggris untuk bertanya soal prosedur legal overstay-nya itu.

“Pertanyaannya, mereka tahu saya overstay. Tapi kenapa mereka memintaku bawa uang denda Rp 42 juta, saat itu sekitar 2.000-3.000 pound sterling. Saya tidak tahu lebih dari 60 hari tidak bisa bayar denda. Jadi kalau keterangan saksi (kemarin) waktu diberi tahu di sidang di atas 60 hari, kenapa saya diminta membawa uang? Mereka missguided me (memberikan informasi yang salah),” tutur Taqaddas yang masa overstay-nya sekitar 90 hari itu.

Taqaddas juga mengaku surat elektroniknya itu tak mendapat balasan. Dia juga kesal karena di dalam ruangan tersebut para petugas tak mengizinkannya pergi. PT BEST PROFIT

“Saya tanya dia berulang kali kenapa saya nggak bisa pergi, tapi tidak dijawab. Petugas Imigrasi hanya berdiri, mereka menertawakan saya, saya dihina, mereka mengambil video. Karena tindakan mereka yang tidak profesional makanya saya menampar. Dia saya tampar satu kali karena dia pantas mendapatkannya, sepertinya sih (pakai) tangan kanan,” terangnya. PT BEST PROFIT FUTURES

Akibat ulah Taqaddas itu jaksa menuntutnya dengan hukuman 1 tahun bui. Jaksa meyakini Taqaddas terbukti menampar petugas dan melanggar pasal 212 KUHP. PT BESTPROFIT

“Meminta majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan terdakwa Auj-e Taqaddas bersalah melakukan tindak pidana pengancaman sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 212 KUHP dalam surat dakwaan dan menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa penjara selama 1 tahun penjara,” kata JPU I Nyoman Triarta Kurniawan saat membacakan surat tuntutan.

Alih-alih menghormati persidangan, Taqaddas malah menyemprot hakim. Taqaddas memarahi hakim karena sidangnya kembali ditunda satu pekan. BESTPROFIT FUTURES

“Yang Mulia apakah saudara sadar saya sudah berapa lama di negara ini, saya hampir 12 bulan! Saya juga sudah lama tidak ketemu keluarga saya, ini tidak fair,” ujar Taqaddas menyemprot hakim dengan nada tinggi. BESTPROFIT

Usai sidang ditutup, Taqaddas kembali tidak bisa menahan amarahnya. Pemicunya sepele yaitu taksi online tidak kunjung datang.

“Di mana taksi saya? Saya ingin pulang, ini tanggung jawab jaksa untuk menyediakan taksi saya,” teriak Taqaddas tepat di depan ruang sidang. BEST PROFIT FUTURES

Alhasil, aksinya mengundang perhatian sejumlah polisi dan pengunjung sidang yang hadir. Salah seorang polisi bersenjata laras panjang mendekati Taqaddas dan berusaha menenangkannya. BEST PROFIT

“Jangan ajak saya bicara kalau Anda tidak paham apa yang saya katakan. Saya tidak mau dibilang kabur, mana taksi saya,” teriaknya lagi.

Polisi tersebut terlihat sempat kebingungan untuk menenangkan Taqaddas karena suaranya mengganggu jalannya sidang. Tak hanya ke polisi, awak media pun jadi sasaran amarah Taqaddas. BESTPRO

“Jangan ambil foto saya, atau saya ambil kameramu dan saya hancurkan,” ujarnya sambil menuding salah seorang fotografer dengan nada tinggi.

Lalu bagaimana nasib Taqaddas? Sidang akan kembali digelar pada Senin BPF