Bestprofit | Tingginya Harga Cabai Turut Berdampak ke Industri Makanan

Bestprofit –  Pelaku industri makanan ikut terkena dampak dari tingginya harga cabai. Kenaikan harga tersebut membuat industri mengurangi jumlah produk makanan yang menggunakan cabai, khususnya jenis rawit merah.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan, selama ini industri makanan tidak kekurangan pasokan cabai untuk bahan baku. Namun belakangan ini harganya melonjak tinggi dibandingkan dibandingkan harga normal.

“Tahun ini memang tidak kekurangan tapi memang harganya lagi-lagi menggerus produktivitas dari kita. Karena kita nggak bisa naikan harga sekejap itu nggak bisa,” ujar dia di Kantor Kementerian Perdagang (Kemendag)

Dia menjelaskan, kebutuhan cabai untuk industri makanan hanya sekitar 100 ribu ton per tahun. Sedangkan total kebutuhan cabai di dalam negeri sekitar 1 juta ton‎ per tahun.

“Kebutuhan industri makanan itu hanya sekitar 100 ribu ton, Sebetulnya kebutuah industri kecil dibandingkan konsumsi, konsumsi itu kebutuhan ya 1 juta ton lebih. Kalau kita kecil sekitar 10 persen,” kata dia.

Adhi mengungkapkan, saat ini industri membeli harga cabai rawit merah dengan harga Rp 100 ribu-Rp 150 ribu per kg. ‎Harga tersebut jauh di atas harga tertinggi pada 2015 yang sebesar Rp 100 ribu per kg.

“Harga itu industri kami beli sampai Rp 150 ribu kemarin, minggu lalu. Itu cabai rawit ya, kalau cabai besar itu cuma sekitar Rp 40 ribuan. Lebih rendah tahun lalu. Di 2015 pernah tinggi juga Rp 100 ribuan tahun ini Rp 150 ribuan,” tandas dia

Bestprofit – Baca juga “Harga Cabai Mahal karena Salah Kelola”

Harga cabai rawit merah terus mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan di wilayah Kalimantan, harga komoditas ini menembus angka Rp 200 ribu per kg. Harga cabai ini mengalahkan harga daging yang saat ini masih berada di kisaran Rp 120 ribu per kg.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, harga cabai yang sampai menyentuh level Rp 200 ribu per kg tersebut seharusnya tidak terjadi di Indonesia yang merupakan negara agraris. “Cabai itu menurut saya konyol, itu persoalan manajemen. Ini bentuk salah urus yang memuakkan untuk negara agraris seperti Indoensia,” kata Enny

Tingginya harga cabai ini tidak akan terjadi jika pemerintah jeli dalam mengatur manajemen penanaman cabai. Memang pemerintah tengah mengembangkan penanaman bahan pangan secara klasterisasi, hanya saja itu belum maksimal.

Enny mengaku, kebijakan klasterisasi itu harus didukung dengan tata kelola panen yang berkesinambungan. “Apa susahnya sih daerah A panennya di Januari, daerah B panennya di Februari, begitu seterusnya. Ini soal manajemen saja sebenarnya,” tegas dia.

Sebelumnya pada 4 Januari 2017, harga cabai terus melonjak naik dalam beberapa hari ini. Bahkan di kota besar di Kalimantan, harga cabai sudah mencapai Rp 200 ribu per kg. Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kota Samarinda, harga cabai yang ditawarkan penjual di los pasar berbeda-beda tetapi tidak jauh dari nilai Rp 200.000 per kilogram untuk masing-masing los dalam satu pasar.

Di Pasar Segiri Samarinda, misalnya, harga cabai tiung dijual Rp 200.000 per kg, cabai rawit Rp 120.000 per kg, cabai keriting Rp 45.000 per kg, dan cabai merah besar Rp 40.000 per kg.

Kemudian di Pasar Kedondong Samarinda harga cabai tiung Rp 200.000 per kg, cabai rawit Rp 70.000 per kg, cabai keriting Rp 40.000 per kg, dan cabai merah besar Rp 35.000 per kg.

Sedangkan di Pasar Sungai Dama Samarinda harganya relatif lebih murah untuk jenis cabai lain, sementara jenis cabai lainnya lebih mahal, yakni cabai tiung seharga Rp 150.000 per kg, cabai rawit Rp 80.000 per kg, cabai keriting Rp 60.000 per kg, dan cabai merah besar Rp 50.000 per kg.

Namun tingginya harga cabai tersebut dibantah oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman “Ini saya luruskan. Ada kadisnya tadi dan kita telpon langsung harganya itu Rp 40 ribu per kg. Itu sudah saya cek langsung. Bahkan kami mapping harga cabai,” kata Amran di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (5/1/2017).

‎Meski begitu, Amran tidak menampik harga capai di beberapa wilayah Indonesia saat ini tengah mengalami kenaikan. Ini karena para petani menunda panen akibat curah hujan yang tinggi.

Untuk pasokan di Kalimantan, Sulawesi, Aceh dan beberapa di luar jawa, dipastikan Mentan tercukupi.‎ “Di tempat-tempat itu, di sentra-sentra produksi cabau, kalau di petani Rp 40 ribu per kg di pedagang Rp 50 ribu per kg, jadi bukan Rp 200 ribu per kg,” tegas dia (RD) Bestprofit