PT BESTPROFIT FUTURES

Polemik status kewarganegaraan sempat melanda Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) perwakilan Jawa Barat Gloria Natapradja Hamel (16). Kewarganegaraan Gloria mulai dipertanyakan setelah ia diketahui memiliki paspor Prancis.

Gadis kelahiran Jakarta, 1 Januari 2000 ini memang lahir dari pernikahan ibu Warga Negara Indonesia (WNI) Ira Natapradja dan ayah Warga Negara Prancis Didier Hamel.
“Awalnya ada serangkaian persyaratan program yang akan studi banding ke Malaysia. Di situ kita minta paspor Gloria dan dari situ kita tahu bahwa Gloria memiliki paspor Prancis,”cerita Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.

Hari itu juga Gloria dinyatakan tidak dapat bergabung dengan Paskibraka yang akan bertugas pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) ke-71 di Istana Merdeka. Ia tidak jadi dikukuhkan oleh Presiden Joko Widodo bersama 67 anggota Paskibraka lainnya.

Imam menyatakan bahwa Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) telah memastikan Gloria tercatat sebagai Warga Negara Prancis, seperti ayah kandungnya.

Padahal seperti yang tertuang dalam Peraturan Menpora No 65 Tahun 2015, salah satu syarat untuk menjadi anggota Paskibraka adalah WNI. Imam mengaku lalai sebab proses seleksi dilakukan di tingkat kabupaten, tepatnya di Kabupaten Depok, yang tidak terpantau dengan baik.

Diketahui bahwa siswi kelas 10 SMA Dian Didaktika ini ternyata pernah menyurati Presiden Jokowi sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa sejak lahir hingga sekarang, ia tinggal dan mengikuti pendidikan di Indonesia. Dengan adanya surat tersebut, Gloria berharap Presiden Jokowi dapat melihatnya sebagai WNI.

“Saya Warga Negara Indonesia dan memilih Kewarganegaraan Indonesia serta akan tetap menjadi Warga Negara Indonesia karena Indonesia adalah tanah tumpah darah saya,” tulisnya di Cibubur, Jawa Barat pada Sabtu (13/8).

Surat Gloria ternyata tidak berhasil meluluhkan hati orang no 1 di Indonesia. Pada Selasa (16/8), Menpora Imam Nahrawi menyatakan Gloria sudah tidak mengikuti latihan Paskibraka.

Kekecewaan mendalam dirasakan oleh Gloria. “Berat sekali, karena mama adalah seorang paskibraka (tahun 1992) dia tahu betapa sakitnya tidak mengibarkan bendera,” curhat Gloria di Gedung Kemenpora.

Kekecewaan juga dinyatakan oleh keluarga dan teman-teman sekolah Gloria lewat aksi solidaritas. Murid Sekolah Islam Dian Didaktika, Cinere, Depok berkumpul di halaman dengan membawa spanduk berisi kata-kata dukungan.

Namun tepat pada hari itu juga, gadis 16 tahun ini malah ditunjuk sebagai Duta Kemenpora oleh Menpora Imam Nahrawi.

“Dia menginspirasi saya. Pelajar Indonesia harus hebat, punya karakter, punya watak, dan menggapai cita cita setinggi langit,” ungkap Imam di kantornya.

Nantinya, Gloria akan ditugaskan sebagai pendamping tiap program yang dibuat oleh Kemempora.

Di hari H, walaupun tidak diperbolehkan turun ke lapangan sebagai bagian dari anggota Paskibraka, Gloria tetap hadir di Istana Presiden pada Rabu (17/8) untuk mengikuti Upacara Penaikan Bendera Merah-putih. Ia datang mengenakan batik sebagai salah satu undangan.

Tidak disangka-sangka, kabar gembira disampaikan kepadanya usai makan siang bersama Presiden Jokowi. Gadis keturunan Indonesia-Prancis ini diperbolehkan bergabung dengan teman-temannya pada Upacara Penurunan Bendera Merah-putih.

Pemerintah memutuskan memperbolehkan Gloria bergabung karena masalah kewarganegaraan bukan merupakan kesalahannya. Alasan lainnya adalah karena jiwa nasionalismenya yang tinggi.

“Melihat nasionalis Gloria, keinginannya, kecintaannya dan juga kalau lihat bagaimana akhirnya kemudian dia tetap berharap, menurut saya karena ini masih anak yang tumbuh dan negara juga memberikan ruang untuk itu,” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Sore harinya, Gloria yang pada awalnya didapuk menjadi pembawa baki diposisikan sebagai penjaga Gordon Tim Bima. Ia bertugas di belakang podium tempat Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berdiri. Perjuangan Gloria yang didasarkan atas rasa cintanya kepada Indonesia pun tak berakhir sia-sia.