Lalan merupakan daerah di Sumatera Selatan yang terbagi menjadi 2 wilayah, yaitu perairan dan daratan. Lalan dikenal sebagai daerah pelosok di Bumi Sriwijaya, tidak jarang daerah ini menjadi tempat pembuangan mayat.

Untuk sampai ke Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, harus menggunakan speed boat menyusuri sungai Musi. Dari Palembang berjarak sekitar 82 kilometer membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam menggunakan jalur sungai. Kapal bersandar di dermaga Desa Sukajadi.

Selama perjalanan, tampak air di sungai Musi yang keruh dan berwarna kecoklatan. Di sana terlihat puluhan nelayan terombang-ambing memasang jaring ikan di atas perahu kecil saat ada speed boat dan tongkang melintas.

Tidak berbeda jauh dengan sungai lain di Indonesia, sungai Musi juga menyimpan banyak cerita. Mulai dari banyaknya ikan sebagai sumber kehidupan warga, hingga buaya yang kerap jadi ancaman.

Secara umum, warga yang tingal di Lalan memang terbilang sudah berkecukupan, ekonominya cukup bagus. Namun akses menuju kota sangat terbatas, pasang surut sungai Musi disebut-sebut menjadi kendala masyarakat di 27 desa di Lalan.

Kondisi jalan yang berkontur tanah pun mudah hancur dan menyulitkan mereka saat bepergian lewat jalur darat. Belum lagi saat musim hujan, jalanan menjadi bubur dan membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam untuk sampai ke Palembang. PT BEST PROFIT

Sarana dan prasarana di daerah Lalan ini terbilang belum memadai. Pasokan listik berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) susah. Listrik hanya hidup 1 malam dan mati lagi 2 malam. Itu pun hanya dari pukul 18.00-06.00 WIB. PT BESTPROFIT FUTURES

‘Hidup segan, mati tak mau’ itulah kata-kata yang sering dilontarkan warga saat listrik padam. Terlebih jika listrik padam saat Lalan sedang diguyur hujan deras.

“Kadang warga suka kesal karena listrik padam saat hujan deras, bahkan kadang nggak ada angin nggak ada hujan saja padam,” terang Haris Hartanto, seorang warga di Lalan saat berbincang dengan detikcom, Jumat (7/9/2018). PT BEST PROFIT FUTURES

Diceritakan Haris, Lalan memang tidak beruntung seperti daerah lain yang ada di Musi Banyuasin. Lalan masih kurang diperhatikan pemerintah yang akhirnya sering dijadikan tempat pembuangan mayat. BESTPROFIT FUTURES

Terakhir yang membuat geger adalah mayat sopir Gocar Try Widyantoro (41). Mayat Try ditemukan tinggal tulang-belulang pada akhir April lalu. PT BESTPROFIT

“Sering (jadi tempat pembuangan mayat) dan kalau tidak salah terakhir yang soal sopir Gocar itu. Itu salah satunya karena mungkin polisi sulit mencari korban dan aksesnya sulit juga,” sambung Haris. BESTPROFIT

“Di sini juga banyak buaya, pasang surut air kadang buat warga sulit beraktivitas dan harus menunggu air pasang. Karena kalau pas surut itu perahu nggak bisa ke dalam (jalur-jalur),” kata pria berusia 27 tahun ini. BEST PROFIT

Meski tinggal di daerah pelosok yang jauh dari kesejahteraan, pemuda desa ini masih punya harapan pemerintan datang dan memperhatikan daerahnya. Minimal akses darat menuju ke kota dapat segera di perbaiki. BESTPRO

“Saya masih berharap utusan pemerintah datang dan langsung memperbaiki jalan ke Lalan. Jadi anak-anak bisa sekolah ke luar seperti daerah lain. Karena kalau mau pakai speed boat pasti biaya mahal, kisaran Rp 150-300 ribu dan nggak ada setiap saat,” tutup Haris. BPF