Institut Pengembangan Korea (Korea Development Institute/KDI) menyebut proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara Jawa 9 dan 10 di Suralaya, Banten berpotensi merugi sebesar US$43,58 juta atau setara Rp610,12 miliar (kurs Rp14 ribu per dolar AS). Best Profit

Kerugian tersebut berasal dari riset yang mereka rilis menggunakan metode penghitungan indeks keuntungan (profitability index) dengan membanding antara nilai kas masuk dan keluar sepanjang keseluruhan proyek. KDI menemukan indikasi kas keluar saat ini lebih besar dari potensi pemasukan. Bestprofit

“Proyek ini dihargai negatif US$43,58 juta (Rp610,12 miliar) yang berarti nilai kas keluar melebihi nilai potensi pemasukan,” tulis riset seperti dikutip olehCNNIndonesia.com pada Jumat (19/6). PT Bestprofit

Proyek mega PLTU berkapasitas 2 ribu MW dengan anggaran sebesar US$3,5 miliar atau setara Rp49 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) ini menggandeng PT Barito Pacific Tbk dan BUMN asal Korea Selatan Korea Electric Power Corporation (Kepco). Keduanya berkomitmen mengambil bagian sebesar 34 persen dan 15 persen secara berturut-turut dalam proyek tersebut. PT Bestprofit Futures

Sementara pemerintah Indonesia, dalam hal ini PLN, memegang mayoritas saham atau 51 persen.

KDI memperingatkan Kepco akan potensi rugi sebesar US$7,08 juta atau setara Rp99,12 miliar (kurs Rp14 ribu per dolar AS) dari bagiannya. Angka ini mengecil sekitar 20 persen dari perhitungan awal pada Oktober 2019 yang mengindikasikan potensi rugi Kepco sebesar US$8,83 juta atau setara Rp123,62 miliar (kurs Rp14 ribu per dolar AS).

“Kepco meremehkan penjualan energi yang merupakan indikator kunci dalam memprediksi keuntungan proyek,” kata KDI.

Kepco dalam perhitungannya mengambil rata-rata asumsi daya transmisi energi tahunan sebesar 86 persen yang menurut KDI hampir mustahil dicapai. Dalam proyeksinya, KDI menyebut proyek Jawa 9 dan 10 hanya dapat mencapai daya transmisi energi di kisaran 78,8 persen per tahun.

Asumsi ini diambil dari angka yang mampu dicapai oleh proyek PLTU serupa. “Rata-rata daya transmisi PLTU dalam setahun tak jauh-jauh dari angka 75 persen,” imbuh KDI.

Dengan perhitungan tersebut, KDI memproyeksikan jika rata-rata daya transmisi tahunan proyek lebih rendah 1,4 persen saja di level 77,4 persen maka Kepco berpotensi meraup rugi lebih dalam sebesar US$22,38 juta atau setara Rp313,32 miliar (kurs Rp14 ribu per dolar AS).

Sebaliknya, jika proyek berhasil mencapai rata-rata transmisi tahunan sebesar 81,7 persen maka Kepco akan meraup untung sebesar US$24,6 juta atau setara Rp344,4 miliar (kurs Rp14 ribu per dolar AS). Namun KDI pesimis proyek PLTU di Indonesia ini mampu mencapai angka tersebut.

Selain investasi dari Barito Pacific dan Kepco, dalam proyek Jawa 9 dan 10, pemerintah juga melibatkan pinjaman investasi dari perusahaan asuransi dagang Korea Kexim dan, beberapa bank asing seperti Korea Development Bank, KEB Hana Bank dan institusi keuangan luar lainnya. Total pinjamannya yaitu sebesar US$2,526 miliar dengan atau setara Rp35,364 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS).

Sementara sisa biaya yang belum terpenuhi sebesar 3 persen dari total proyek akan dibayar dari pendapatan proyek di kemudian hari.

Tak hanya memperingatkan Kepco akan potensi rugi dari penjualan energi yang tak menutupi pengeluaran, KDI juga mewanti-wanti akan pengeluaran tambahan biaya konstruksi sebesar US$550 juta atau setara Rp7,7 triliun dari Doosan Heavy selaku kontraktor proyek.

Permasalahan lainnya, menurut KDI, yaitu transisi energi global yang menunjukkan konsekuensi negatif dari proyek PLTU. Pandemi covid-19 pun berpotensi berdampak pada proyek Jawa 9 dan 10.

“Kami merekomendasikan Kepco untuk berpikir ulang dalam berpartisipasi dalam proyek ini dan meninjau keadaan ekonomi serta kondisi pasar di Indonesia. Khususnya setelah melakukan klarifikasi posisi PLN dalam proyek ini,” pungkasnya.