sentra-perdagangan-ponsel-di-roxy-mas-jakarta_20160621_073717

 

 

 

 

PT BESTPROFIT FUTURES, JAKARTA- Sejak dua pekan terakhir, beberapa ponsel Xiaomi sulit ditemukan di pusat perdagangan gadget di Jakarta.
Setidaknya potret itu tercermin di ITC Ambassador, ITC Roxy Mas, dan Roxy Square.
Beberapa pedagang mengatakan kondisi tersebut imbas dari razia ribuan ponsel Xiaomi yang dilakukan polisi pada Selasa dua pekan lalu.
Salah satu pedagang ponsel di ITC Roxy Mas, Nanin (38), mengatakan tak akan lagi berjualan lini Xiaomi dari distributor non resmi.
Menurut dia, risiko yang ditanggung lebih besar ketimbang potensi keuntungannya.
“Mending saya yang pasti-pasti (resmi) aja,” kata Nanin.
Sebagai informasi, ponsel Xiaomi yang masuk resmi ke Indonesia jenisnya masih terbatas, misalnya Mi 4i, Redmi Note, dan Redmi 2.

Padahal Xiaomi merupakan vendor yang terhitung produktif mengeluarkan lini baru. Dalam setahun, vendor China itu rata-rata mengeluarkan dua hingga tiga perangkat anyar.
Distributor resmi dianggap lambat memboyong seri ponsel Xiaomi termutakhir.
Di Indonesia, Xiaomi mempercayakan Erajaya sebagai distributor resmi produknya.
Akibatnya, distributor non-resmi menangkap peluang dengan memboyong ragam tipe ponsel Xiaomi secara ilegal alias black market (BM).
Menurut Yudi (28) yang berjualan tak jauh dari lapak Nanin, jenis ponsel Xiaomi non-resmi memang paling banyak dicari pengunjung.
Sebut saja Redmi Note 2, Redmi Note 3, dan Redmi Note 2 Pro.
“Saya nggak mau simpan di toko. Untungnya cuma ceban (Rp 10.000-red), risikonya puluhan juta (kalau digerebek)” ia menuturkan.

Selain itu, menurut Yudi, risiko menjual barang “BM” bakal lebih sering dikomplain pelanggan soal kualitas produknya.
Pernyataan setali tiga uang dilontarkan Nengsih (21) yang berjualan ponsel di ITC Ambassador.
Ia membenarkan pengunjung lapaknya kebanyakan berminat membeli lini Xiaomi non-resmi.
“Tapi kami nggak mau jual. Kan barangnya belum resmi,” ia menuturkan.
Pedagang lain di ITC Ambassador yang enggan disebut namanya mengatakan masih menjual ponsel Xiaomi non-resmi.
Hanya saja, mekanisme penjualannya dilakukan secara kucing-kucingan.
“Nggak ada yang berani jual terang-terangan. Kan baru razia minggu lalu,” kata penjual itu.

Ia pun memastikan dalam beberapa pekan ke depan penjualan Xiaomi non resmi bakal kembali marak.
Ramainya jual-beli barang black market ini merugikan negara karena distributor gelap tak membayar pajak ke pemerintah.
Polisi pun bertindak dengan mengamankan dua unit mobil boks di Jalan S Parman, Jakarta Barat, pekan lalu.
Kedua mobil tersebut diduga membawa 10.000 unit smartphone ilegal yang bermerek Xiaomi dan Apple.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Awi Setiyono mengatakan, kedua mobil tersebut membawa barang-barang yang berpotensi merugikan negara hingga Rp 15 miliar. PT BESTPROFIT FUTURES