Nasabah yang tergabung dalam Forum Korban Jiwasrayakembali menuntut kejelasan atas investasi mereka pada produk JS Saving PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang tak kunjung dibayarkan hingga sekarang. Best Profit

Mereka menyambangi Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian Keuangan untuk meminta audiensi kepada Presiden Joko Widodo serta Menteri Keuangan Sri Mulyani dan menagih janji pemerintah atas penyelesaian masalah di Jiwasraya. Bestprofit

“Kami ingin agar perwakilan nasabah korban Jiwasraya bisa beraudiensi baik dengan presiden maupun menteri keuangan untuk mendapatkan kesepakatan bersama terkait penyelesaian pencairan dana yang sudah lewat jatuh temponya,” ujar nasabah dalam keterangan resminya, Jumat (11/9). PT Bestprofit

Jika kasus ini terus terkatung-katung, mereka berkata kepercayaan rakyat kepada perbankan dan BUMN juga akan menurun drastis. Pasalnya permasalahan gagal bayar Jiwasraya ini belum terselesaikan selama hampir 2 tahun sampai sekarang. PT Bestprofit Futures

“Kami hidup susah susah apalagi selama pandemi banyak yang hidup cuma bergantung pada tabungan sedangkan uang yang kami harapkan untuk membantu kehidupan kami harus tersita Jiwasraya dan tidak ada ujungnya,” imbuh nasabah.

Nasabah juga mendesak pemerintah bisa mencari solusi yang baik terhadap permasalahan gagal bayar Jiwasraya. Salah satunya, jika memungkinkan, dengan mencetak uang seperti yang sebelumnya dilakukan pada saat hari kemerdekaan RI, cek giro dan lain sebagainya.

“Jangan sampai kami sebagai nasabah seenaknya saja dipaksa dan dipindahkan ke perusahaan lain tanpa adanya kesepakatan kedua belah pihak antara nasabah dan Jiwasraya,” tandas nasabah.

Tak hanya dari Indonesia, para nasabah asal Korea Selatan yang jadi korban gagal bayar juga turut bergabung dalam aksi tersebut.

Mereka mengatakan uang yang disimpan ke produk JS Saving Plan merupakan dana masa depan untuk keluarga dikumpulkan sedikit demi sedikit selama bekerja di Indonesia.

“Ada yang menyimpankan uang untuk pembelian rumahnya di masa depan, ada yang menyimpankan uang santunan dari pasangan hidupnya, ada yang menyimpankan uang untuk pengobatan jangka panjang. Uang itu benar-benar hasil keringat dan air mata kami selama ini,” ujar nasabah asal Korea Selatan.

Mereka juga mendesak pemerintah memberikan penjelasan mengenai restrukturisasi dan kebijakan internal perusahaan terkait pengembalian uang nasabah.

“Kami menyampaikan permohonan ini dan kiranya Bapak Presiden memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini mengingat hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang telah terjalin selama ini serta kredibilitas PT Asuransi Jiwasraya selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia,” tandasnya.