Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir tengah mengkaji nasib enam perusahaan pelat merah sektor manufaktur. Enam perusahaan BUMN yang dimaksud adalah Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero), PT Industri Kereta Api (Persero), dan PT Industri Kapal Indonesia (Persero). Best Profit

Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Fajar Harry Sampurno menjelaskan saat ini enam perusahaan tersebut telah membentuk kluster. Selanjutnya terdapat tiga opsi untuk enam perusahaan tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN. Ketiga opsi yang dimaksud adalah penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan alias holding. Bestprofit

“Untuk kluster ini sedang dikaji yang mana paling pas apakah bentuknya holding dulu untuk mempermudah atau dia melebur. Sebab, hampir sama (bisnis) di galangan kapal dan melakukan pengolahan baja,” katanya, Jumat (21/2). PT Bestprofit

Kementerian BUMN telah memulai kajian skema tersebut sejak Desember tahun lalu. Kajian meliputi untung rugi masing-masing skema bagi industri manufaktur secara keseluruhan maupun masing-masing perusahaan. PT Bestprofit Futures

Sementara ini, lanjutnya, Barata Indonesia menjadi koordinator dalam kluster BUMN manufaktur. Targetnya, Kementerian BUMN dapat memutuskan skema yang akan digunakan pada tahun ini.

“Kalau bisa sama pembentukannya (tahun ini),” ujarnya.

Sebagai informasi, Kementerian BUMN belum lama ini meresmikan holding BUMN sektor farmasi dimana PT Bio Farma (Persero) menjadi induk holding. Selain holding BUMN farmasi, pemerintah juga telah meresmikan holding BUMN pertambangan serta holding BUMN minyak dan gas (migas).