Perusahaanritel Tailored Brands diprediksi menjadi perusahaan raksasa selanjutnya yang bangkrut. Perusahaan ini memiliki beberapa merek ritel pakaian seperti Men’s Wearhouse, Jos A Bank, dan K&G. Best Profit
 

Prediksi tersebut menyusul dampak pandemi virus corona yang membuat 10 juta pekerja laki-laki kehilangan pekerjaannya dan jutaan lainnya bekerja dari rumah hingga waktu yang belum ditentukan. Bestprofit

“Perusahaan memiliki penasihat soal kebangkrutan sejak beberapa bulan terakhir. Penasihat telah menjajaki semua opsi yang ada. Kemungkinan (kebangkrutan) cukup tinggi,” kata Analis Debtwire Reshmi Basu. PT Bestprofit
Menurut Basu, permintaan pakaian otomatis menurun drastis dengan situasi kerja dari rumah saat ini. Berbagai pengecer AS telah mengajukan status kebangkrutan selama pandemi virus corona, termasuk J.Crew, Neiman Marcus, dan JCPenney.  PT Bestprofit Futures
Sektor ritel terutama penjual pakaian menerima pukulan berat seiring dengan kebutuhan pakaian baru yang terus menurun. GAP melaporkan rekor kerugian sebesar US$932 juta atau setara Rp13,04 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS) pada kuartal I 2020.

Perusahaan lainnya yang menghadapi risiko serupa termasuk grup ritel Ascena, pemilik rantai ritel pakaian Lane Bryant, Justice, Ann Taylor, dan Dress Barn. Tailored Brands mengungkapkan risiko kebangkrutan dan kemungkinan penutupan operasi akibat wabah virus corona.

“Jika dampak krisis pandemi covid-19 terus berlarut dan kami tidak dapat meningkatkan likuiditas dan secara efektif mengatasi posisi utang, kami mungkin terpaksa mengurangi atau menghentikan operasi kami sembari meminta perlindungan di bawah UU Kebangkrutan,” tulis surat pengajuan Tailored Brands pada Rabu lalu.
Perusahaan menangguhkan pembayaran sewa gerai untuk April dan Mei saat sebagian besar lokasi usahanya ditutup. Tailored Brands telah negosiasi penangguhan sewa untuk sejumlah besar tokonya pada akhir 2020 hingga 2021.

Perusahaan juga merumahkan dan memberhentikan 95 persen dari total 19 ribu karyawannya. Meski Tailored Brands berusaha bangkit dan membuka 44 persen tokonya pada awal Mei, namun penjualan pada pekan pertama Juni anjlok 65 persen di Men’s Wearhouse, 78 persen di Jos A Bank, dan 40 persen di K&G.