Coki Pardede ‘Suntik’ Sabu via Dubur, Dokter Jelaskan Efek dan Bahayanya

Uncategorized

Cara mengonsumsi narkoba ‘versi’ komika Coki Pardede dinilai tidak umum karena memasukkan sabu lewat dubur. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, juga mewanti-wanti risiko infeksi yang bisa terjadi. Best Profit
“Ini bahaya, kalau misalnya ada kotoran kan suntik di situ malah infeksi, bisa pembengkakan, bisa ada abses, karena kan memang kita tidak memberikan obat suntikan di situ. Tidak umum,” pesan Prof Ari, saat dihubungi detikcom Jumat (3/9/2021). Bestprofit

Menurut Prof Ari, kemungkinan pemakai mengincar kemudahan pemakaian sabu karena tak perlu repot mencari pembuluh vena jika ingin menyuntikkan di kulit. Lain halnya dengan memasukkan sabu lewat dubur. PT Bestprofit

“Kalau ini kan dia masukinnya nggak usah milih pembuluh daerah, langsung saja di dalam duburnya itu,” sambung dia. PT Bestprofit Futures

Adakah efek lainnya saat memasukkan sabu lewat dubur?
Prof Ari menjelaskan sejumlah obat yang selama ini dimasukkan lewat dubur untuk mendapat efek penyerapan lebih cepat. Namun, obat-obat tersebut memang sudah didesain khusus untuk dimasukkan lewat dubur sehingga aman digunakan. Lowongan Kerja

Misalnya, obat ambeien, obat penghilang rasa nyeri, hingga obat anak-anak untuk antikejang dan obat pencahar.

“Itu memang anus tempat yang cepat untuk diserap, makanya tadi misalnya obat-obatan penghilang sakit, antikejang, sama obat ambeien. Tapi kalau memasukkan atau menyuntikkan sesuatu di situ tidak bisa, karena jadi infeksi,” pungkas dia.

Dikutip dari Healthline, cara ini juga dikenal dengan booty bumping, saat seseorang memakai narkoba seperti metamfetamin, heroin, hingga kokain melalui dubur.

Memakai sabu melalui dubur bisa menyebabkan iritasi atau rasa sakit. Risiko lainnya yang mengintai bisa merobek jaringan internal anus. San Francisco AIDS Foundation and Tweaker, menyebut hal ini bisa disertai dengan pendarahan.

Akibatnya, ada risiko tertular infeksi, seperti HIV, hepatitis C, dan limfogranuloma venereum terkait klamidia