PT Bestprofit Futures | Bursa Asia Tertekan Jelang Pemilu AS

Bursa Asia melemah pada perdagangan saham Rabu pekan ini.Tekanan itu terjadi lantaran pelaku pasar khawatir jelang pemilihan umum Amerika Serikat (AS).

Apalagi hasil polling calon presiden AS dari partai Republik Donald Trump menunjukkan kenaikan dari pesaingnya calon presiden AS dari partai Demokrat Hillary Clinton. Berdasarkan polling yang dilakukan ABC News/Washington Post menunjukkan posisi Donald Trump naik satu persen.

Selain itu, pelaku pasar juga memperhatikan review kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Rabu waktu setempat. Sejumlah analis mengatakan, kemenangan Trump akan kurangi antisipasi kenaikan suku bunga pada Desember.

“Investor terlihat gugup jelang pemilihan umum AS.Bagaimana pun juga polling ini menunjukkan kalau prospek Donald Trump meningkat, dan itu membuat pasar gugup. Meski the Fed tidak memberi sinyal akan menaikkan suku bunga pada Desember, tetapi pasar khawatir jika Trump menang karena mendorong ketidakpastian dan volatilitas di pasar keuangan meningkat,” ujar Ric Spooner, Chief  Market Analyst CMC Markets seperti dikutip dari laman Bloomberg.

Pada perdagangan Rabu pekan ini, indeks saham MSCI Asia Pasifik turun 0,6 persen pada pukul 09.16 waktu Tokyo. Sektor saham barang konsumsi memimpin penurunan. Indeks saham Jepang Topix merosot 1,4 persen, dan mencatatkan penurunan terbesar di antara bursa Asia.

Di pasar uang, yen menguat ke level tertinggi dalam satu pekan. Mata uang Swiss franc mencatatkan penguatan. Franc berada di posisi 97,52 terhadap dolar Amerika Serikat. Yen naik 0,1 persen menjadi 104,07 per dolar AS usai naik 0,6 persen pada sesi terakhir.

Harga minyak cenderung tertekan, Harga minyak merosot ke level terendah dalam satu bulan seiring pasokan minyak AS lebih besar dari yang diharapkan. Harga minyak Brent merosot menjadi US$ 47,90 per barel.

Data Inflasi Pengaruhi Laju IHSG

ndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak variatif pada perdagangan saham hari ini. Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi mengatakan, IHSG akan bergerak pada support 5.376 dan resistance 5.445.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa (1/11/2016) IHSG melemah tipis 6,53 poin ke level 5.416,01. Pelemahan indeks ditekan oleh kinerja sektor manufaktur dalam negeri.

“Data indeks kinerja manufaktur di dalam negeri justru turun,” kata dia di Jakarta, Rabu (2/11/2016).

Namun demikian, saham sektor pertambangan dan aneka industri justru menguat. Dia mengatakan, penguatan ditopang oleh meningkatnya harga komoditas.

“Kembalinya melonjak harga komoditas terimbas sentimen optimistis dari indeks kinerja manufaktur di China menjadi faktor utama penggerak sektor pertambangan,” terang dia.

Sementara, pada perdagangan saham kemarin investor asing tercatat melakukan aksi beli bersih. Dia menuturkan, aksi beli itu didorong oleh rilis data inflasi.

“Data tingkat inflasi yang dirilis lebih rendah dari periode sebelumnya berhasil meredakan aksi jual investor. Hingga investor asing pun berbalik optimis dengan tercatat net buy Rp 492,93 miliar,” kata dia.

Lanjar merekomendasikan saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) untuk dicermati pelaku pasar.

PT Bahana Securities memperkirakan IHSG bergerak variatif cenderung menguat. Rentang gerak IHSG berada pada support 5.400 dan resistance 5.450. (RDI)

PT Bestprofit Futures