BESTPROFIT FUTURES

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar. Bahkan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini sukses mengekspor produk perikanannya hingga ke luar negeri.

Karena alasan inilah, Kemendag ingin apa yang dilakukan Banyuwangi menginspirasi daerah lain, khususnya di eks Karisidenan Besuki, yaitu Jember, Lumajang, Situbondo dan Bondowoso. Melalui acara Forum Komunikasi Informasi Ekspor yang digelar di Hotel Ketapang. Kemendag memaparkan peluang produk unggulan di Indoensia dalam menembus pasar global.

Menurut Direktur Bidang Pengembangan Pasar dan Informasi dari Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Tuti Prahastuti pertemuan ini bermula karena kuantitas ekspor Indonesia selama dua tahun terakhir mengalami penurunan. Sehingga sejumlah terobosan terus dicari agar ekspor di Tanah Air kembali bergairah.

Tuti mengatakan, selain produk perikanan pasar luar negeri juga sangat berminat dengan produk jewellery (perhiasan) dan furniture buatan Indonesia. “Kami juga tertarik mengembangkan sektor jasa. Kita akan bekerja sama dengan travel agent untuk mengembangkan sektor pariwisata kita,” kata Tuti, Kamis (1/9).

Sementara di Banyuwangi, komoditas ekspor yang paling diminati pasar luar negeri adalah produk perikanan. “Semua produk perikanan di Banyuwangi sangat potensi. Mulai dari ikan hias, udang, sidat hingga produk makanan olahan sangat diminati pasar luar negeri. Ini jadi contoh yang baik bagi kabupaten lain,” kata dia.

Maka lewat kegiatan ini, pihaknya ingin daerah-daerah sekitar Banyuwangi, seperti Jember, Situbondo, Bondowoso dan Lumajang berkumpul bersama. Selain untuk sharing, juga dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan para eksportir dan importir serta para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Kita sekaligus bisa melakukan pendataan berapa jumlah eksportir yang ada dan jenis komoditi apa saja yang dipasarkan. Termasuk memberikan penguatan agar mereka mampu bernegosiasi untuk meningkatkan daya saing pasar. Mengingat ekspor inilah pendapatan nasional akan meningkat,” ujar Tuti.

Data tersebut nantinya akan diupdate dalam website milik Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan. Pembuatan promosi secara digital akan mempermudah para buyer menghubungi para eksportir dan mencari produk yang mereka inginkan.

“Jadi nantinya buyer tinggal klik saja di web kami jika ingin mengakses data eksportir di Indonesia, bagaimana promosi produknya dan para eksportir bisa secara langsung menerima permintaan dari negara lain,” kata Tuti.

Tak hanya itu, pihak Kemendag juga siap melakukan pelatihan-pelatihan bagi eksportir di eks Karisidenan Besuki. Pelatihan bertujuan untuk mendidik para eksportir bagaimana cara ekspor yang bagus, memilih pasar potensial, standar produk, penentuan harga hingga packagingnya. “Selain sebagai regulator, kami juga akan memfasilitasi para eksportir ini untuk belajar gratis selama satu tahun. Ini akan menyetak eksportir andal yang siap bersaing di pasar global,” ujar Tuti.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo kegiatan ekspor di Banyuwangi pada semester pertama 2016 lebih baik dari Tahun 2015.

“Nilai ekspor di Banyuwangi pada semester pertama 2016 mencapai 23,51 juta dolar Amerika. Jumlah ini meningkat 19,7 persen dibandingkan semester awal di 2015 lalu hanya mencapai 19,81 juta dolar Amerika,” kata Hary.

Pada semester pertama di 2016 Banyuwangi telah melakukan 710 kali ekspor. Dari angka tersebut, ekspor terbanyak adalah komoditas ikan hias yaitu 453 kali, diikuti dengan udang hingga 166 kali ekspor. “Pemkab Banyuwangi juga punya fasilitas khusus bagi para eksportir untuk penerbitan dokumen Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA). Dengan dokumen ini para eksportir bisa lebih mudah mendapatkan pembinaan, pelayanan dan menekan biaya,” ujarnya.

Berdasarkan dokumen IPSKA, Banyuwangi telah mengekspor barang-barang non migas ke 33 negara seperti Thailand, China, Inggris, Saudi Arabia, Perancis, Belanda, Brazil, Austria, Spanyol, India, Afrika Selatan, Rusia, Meksiko, Jepang, Swiss dan Amerika Serikat.

BESTPROFIT FUTURES

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menilai Banyuwangi sebagai salah satu daerah penghasil ikan terbesar. Bahkan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa ini sukses mengekspor produk perikanannya hingga ke luar negeri.

Karena alasan inilah, Kemendag ingin apa yang dilakukan Banyuwangi menginspirasi daerah lain, khususnya di eks Karisidenan Besuki, yaitu Jember, Lumajang, Situbondo dan Bondowoso. Melalui acara Forum Komunikasi Informasi Ekspor yang digelar di Hotel Ketapang. Kemendag memaparkan peluang produk unggulan di Indoensia dalam menembus pasar global.

Menurut Direktur Bidang Pengembangan Pasar dan Informasi dari Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Tuti Prahastuti pertemuan ini bermula karena kuantitas ekspor Indonesia selama dua tahun terakhir mengalami penurunan. Sehingga sejumlah terobosan terus dicari agar ekspor di Tanah Air kembali bergairah.