PT BESTPROFIT FUTURES – Pengembangan Blok East Natuna yang tak kunjung terealisasi karena permasalahan dalam teknologinya. Hal ini membuat blok migas yang ada di Kepulauan Riau ini tak kunjung bisa dimanfaatkan cadangan gasnya yang mencapai 46 triliun kaki kubik (TCF).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar optimis bisa segera menggarap Blok East Natuna. Hal ini berkaca pada kesuksesannya pada 2010 silam yang berhasil membuat alat pengeboran untuk lapangan marjinal di Peru.

“Tahun 2010 ada sebuah lapangan di Peru dimana saya sendiri juga tidak tahu bahwa Peru memiliki lapangan minyak. Dia minta dibuatkan desain platform untuk pengeboran dan produksi. Ini sangat marjinal lapangannya. Tapi Peru sangat terbuka dengan teknologinya. Kita lihat, dalam 54 meter, hampir sama dengan Natuna,” ujar Arcandra di Crown Plaza, Jakarta, Selasa (6/12).

Permintaan tersebut berhasil dipenuhi. Pada periode Januari 2011 hingga Oktober 2012, dia berhasil membuat alat pengeboran tersebut. PT BESTPROFIT FUTURES

Tidak hanya itu, alat pengeboran tersebut juga didesain tahan terhadap gempa. Lebih uniknya, pemasangan alat pengeboran bak sebuah lego yang bisa dibongkar pasang sesuka hati.

“Dia minta (desainnya) tahan gempa 9,5 skala ritcher (SR). Produksinya 10.000 barel per hari (bph), diminta di desainkan 24 wheel. Kemudian dia minta fast track, kurang dari 2 tahun selesai,” katanya. PT BESTPROFIT FUTURES

“Kita mulai riset Januari 2011, kita mulai desain. Idenya simpel, seperti mainan anak-anak saja, persis kayak kita main lego, tidak pakai crane (pemasangannya). Saat ini mereka sudah mulai pengeboran dan produksi,” lanjutnya.

Berkaca pada pencapaian tersebut, kata Arcandra, tantangan pengembangan Blok Natuna tidak berbeda jauh dengan pengembangan lapangan marjinal di Peru. Hanya saja, untuk memasukan teknologinya, Indonesia memerlukan waktu lebih banyak dibanding negara bagian Selatan Amerika tersebut.

Menurutnya, jika Indonesia bisa secepat Peru, nantinya akan banyak pihak yang mempertanyakan proses tersebut. “Tantangan di Natuna hampir sama. Teknologi yang sama (dengan Peru) mungkin bisa kita bawa kesini. Yang menjadi kendala adalah sewaktu teknologinya kita bawa paling tidak 5 tahun, enggak bisa 20 bulan. Peru, negara dunia ketiga, dia berani 20 bulan. Sementara kita, pasti ditanya kalau ini gagal bagaimana? Apalagi menggunakan dana APBN,” pungkasnya.

Tahun 2010 ada sebuah lapangan di Peru dimana saya sendiri juga tidak tahu bahwa Peru memiliki lapangan minyak. Dia minta dibuatkan desain platform untuk pengeboran dan produksi. Ini sangat marjinal lapangannya. Tapi Peru sangat terbuka dengan teknologinya. Kita lihat, dalam 54 meter, hampir sama dengan Natuna,” ujar Arcandra di Crown Plaza, Jakarta, Selasa (6/12).

Permintaan tersebut berhasil dipenuhi. Pada periode Januari 2011 hingga Oktober 2012, dia berhasil membuat alat pengeboran tersebut. PT BESTPROFIT FUTURES

Tidak hanya itu, alat pengeboran tersebut juga didesain tahan terhadap gempa. Lebih uniknya, pemasangan alat pengeboran bak sebuah lego yang bisa dibongkar pasang sesuka hati.