Bank Dunia mengaku tengah mempelajari situasi atas perkembangan proyek panas bumi di kawasan Wae Sano, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu dilakukan pasca mendapatkan surat dari warga setempat yang menolak proyek tersebut. Best Profit

“Saat ini kami sedang mempelajari situasinya dan akan memberikan tanggapan yang lebih detail kepada pengirim surat dalam waktu dekat,” ungkap Senior External Affairs Officer Lestari Boediono. Bestprofit

Ia memastikan Bank Dunia selalu terbuka untuk melakukan komunikasi dengan seluruh pihak. Tetapi, Lestari mengaku belum bisa berkomentar lebih banyak terkait penolakan warga adat Wae Sano terhadap proyek panas bumi di wilayah setempat.
PT Bestprofit

“Saat melaksanakan kegiatan di lapangan, Bank Dunia terbuka untuk berkomunikasi dengan semua pihak, seperti masyarakat adat, mitra kerja, kelompok agama, generasi muda, dan lain-lain,” jelas Lestari. PT Bestprofit Futures

Sebelumnya, perwakilan masyarakat adat Wae Sano bernama Yoseph Erwin Rahmat mengatakan sejumlah warga mengirimkan surat penolakan atas proyek pengeboran panas bumi di wilayah tersebut kepada Bank Dunia dan Pemerintah Selandia Baru.

Bank Dunia dan pemerintah Selandia Baru adalah pihak yang mendanai proyek pengeboran tersebut. Proyek itu dikerjakan oleh perusahaan BUMN, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI. 

Yoseph bilang surat penolakan atas proyek panas bumi itu diberikan kepada pimpinan perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia di Jakarta dengan tembusan kepada Presiden Grup Bank Dunia David Malpass.

“Kami masyarakat adat Wae Sano berkeberatan dengan proyek pengeboran panas bumi di Wae Sano. Titik-titik pengeboran yang ditetapkan oleh SMI terletak di tengah-tengah ruang hidup kami,” ucap Yoseph dalam keterangan resmi.

Yoseph bilang SMI telah melakukan survei dan pengeboran pengambilan sample untuk proyek panas bumi itu tanpa persetujuan warga. Kemudian, perusahaan itu juga akan melakukan kegiatan eksplorasi.

“Titik yang hendak dieksplorasi itu persis berada di ruang hidup kami,” ujar Yoseph.

Sementara, Direktur SMI Darwin Trisna Djajawinata menyatakan pihaknya belum melakukan aktivitas apapun atas proyek panas bumi di Wae Sano. Ia mengaku perusahaan masih melakukan sosialisasi terkait proyek tersebut.

“Kami belum melakukan kegiatan fisik apapun, karena ingin memastikan masyarakat memahami dan menyepakati pelaksanaan ini,” ucap Darwin.

Ia menjelaskan SMI diberikan tugas oleh pemerintah untuk melakukan eksplorasi demi memperoleh data terkait potensi panas bumi di Wae Sano. Nantinya, data itu diberikan kepada pemerintah untuk mengembangkan proyek.

SMI mendapatkan dana hibah dari Bank Dunia sebesar US$30 juta-US$32 juta untuk melakukan eksplorasi di Wae Sano. Sementara, total dana yang diperoleh SMI dari Bank Dunia mencapai US$55 juta.

“Untuk pemanfaatannya bergilir, untuk Wae Sano sebagai proyek pertama yang kami gunakan dari dana hibah,” pungkas Darwin.