Jakarta,  Serangan menggunakan cairan kimia di sebuah sekolah taman kanak-kanak di Kaiyuan, Yunnan, China menelan korban 51 murid dan tiga guru. Para korban dilaporkan mengalami luka bakar akibat terkena cairan korosif. Bahkan dua orang di antaranya dilaporkan mengalami luka bakar serius. Best Profit

Pihak berwenang setempat melalui akun media sosial Weibo mengatakan insiden tersebut terjadi pada Senin (11/11) pukul 15.35 waktu setempat. Seorang pelaku bernama Kong (23) diidentifikasi menjadi sosok di balik serangan tersebut. Kong diketahui memasuki area sekolah dengan cara memanjat dinding. Ia kemudian menyemprotkan cairan natrium hidroksida ke arah anak-anak dan guru. Natrium hidroksida (NaOH) atau dikenal dengan sebutan soda api, soda kaustik, sodium hidroksida merupakan sejenis basa logam kaustik. Ketika dilarutkan dalam air, natrium hidroksida akan melepaskan panas dan bisa menyebabkan kerusakan pada mata, kulit, hingga sistem pernapasan. Bestprofit

Para korban kemudian dilarikan ke dua rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. Pihak sekolah melaporkan sebagian besar korban tidak mengalami luka yang berpotensi membahayakan keselamatan. Selain dua orang mengalami luka bakar serius, empat korban dilaporkan menderita luka bakar sedang, dan sisanya cedera ringan. Kepolisian setempat kemudian menahan Kong dalam waktu kurang dari satu jam setelah kejadian. Ketika diinvestigasi, pelaku mengaku ada berbagai faktor yang melatarbelakangi tindakannya.

“Karena kedua orangtuanya bercerai saat ia masih anak-anak, kurangnya kasih sayang keluarga berdampak pada distorsi psikologis ditambah dengan pekerjaan serta kehidupannya yang tidak memuaskan memunculkan adanya mentalitas pesimistis serta pikiran-pikiran untuk melakukan pembalasan terhadap masyarakat,” kata perwakilan pihak berwenang setempat. PT BestProfit

Kasus penyerangan terhadap anak-anak sekolah bukan pertama kali terjadi di China. Pada April 2019, pria berusia 28 tahun membunuh sembilan siswa sekolah menengah pertama saat perjalanan pulang. Insiden tersebut dianggap sebagai salah satu serangan paling brutal dalam beberapa tahun terakhir. Pelaku kemudian mengaku sebagai korban perundungan ketika masih bersekolah di provinsi Shaanxi, China yang kemudian dieksekusi pada September 2018. Di tahun yang sama, seorang perempuan berusia 39 tahun menyayat beberapa murid TK di provinsi Sichuan sehabis kelas senam pagi. Sebanyak 14 murid dilaporkan terluka akibat insiden tersebut. PT BestProfit Futures